PERNYATAAN SIKAP BEM UM

MENGECAM KERAS: TINDAKAN REPRESIF APARAT KEPOLISIAN
TERHADAP WARGA WADAS

Senin, 7 Februari 2022. Ribuan aparat kepolisian mencoba kembali memasuki Desa Wadas. Hari itu mereka mendirikan camp di Lapangan Kaliboto, Kecamatan Bener, Purworejo yang berlokasi di belakang Polsek Bener. Malam harinya terjadi pemadaman listrik di Desa Wadas, sementara desa-desa sekitarnya tetap menyala.
Selasa, 8 Februari 2022, ribuan polisi bersenjata lengkap dan tim pengukur dari kantor pertanahan Purworejo memasuki Desa Wadas. Akses masuk ke Desa Wadas di sekitar polsek Bener sudah dipadati aparat polisi dan beberapa mobil polisi memasuki Wadas dan merobek serta mencopot poster-poster yang berisikan penolakan terhadap pertambangan di Desa Wadas. Aparat kepolisian yang memasuki Desa Wadas mengepung dan menangkap warga di masjid Krajan. Polisi Juga melakukan teror dan kriminalisasi terhadap warga Desa Wadas dengan menangkap lebih dari 60 orang dengan alasan yang tidak jelas, merampas perlengkapan membesek di rumah-rumah, bentakan dan makian juga mereka lontarkan kepada pemilik rumah padahal banyak perempuan, lansia, dan anak-anak, polisi juga menangkapi anak-anak. Terdapat juga indikasi sinyal juga di take down sehingga terhambat untuk mengabarkan kondisi lapangan.
Rabu, 9 Februari 2022, penyerbuan ribuan aparat Kepolisian-TNI di Desa Wadas masih berlangsung, mereka melanjutkan penyisiran ke beberapa titik, seperti Masjid, Balaidesa, rumah-rumah, dan pos-pos penjagaan warga. Penangkapan yang dilakukan oleh aparat membuat keresahan bagi warga yang kehilangan sanak saudara/keluarganya, sehingga banyak warga yang merasa tidak aman apabila harus tinggal sendiri yang kemudian memutuskan untuk berkumpul di Dusun Randuparang. Namun aparat Kepolisian-TNI juga bergerak masuk ke dusun itu yang mengakibatkan banyak warga hanya berani mengintip dari jendela rumah untuk melihat situasi yang sedang terjadi. Aparat kepolisian juga merazia telepon seluler milik warga, tanpa alasan yang jelas dan seizin pemiliknya. Warga hanya mengetahui bahwa razia itu dilakukan untuk memeriksa pesan dan aktivitas digital pemiliknya.
Di tengah kondisi yang mencekam tidak ada yang bisa warga lakukan di tengah perasaan takut, persediaan makanan yang mulai menipis, lahan-lahan pertanian yang tak terawat, hewan-hewan ternak yang tak kunjung mendapat pakan, besek-besek yang terbengkalai, pohon-pohon yang belum disadap, serta ketidakpastian informasi tentang warga yang ditangkap. Kedatangan aparat yang kemudian menimbulkan keadaan yang mencekam dan mengahantui warga tersebut jelas melanggar hak asasi manusia terkhusus dengan hak sebagai warga negara yang merdeka dan hak atas tempat tinggal yang aman.

Atas nama hak hidup dengan aman tanpa kekerasan, kami BEM UM menyatakan sikap:

  1. Mengecam keterlibatan dan tindak represif aparat kepolisian di Desa Wadas.
  2. Mengecam tindakan semena-mena kekerasan, pemaksaan, dan penangkapan tanpa adanya alasan yang jelas.
  3. Meminta aparat kepolisian meninggalkan Desa Wadas.
  4. Usut tuntas Tindakan kekerasan yang dilakukan oleh aparat kepolisian di Desa Wadas.

Demikian pernyataan sikap ini dibuat dengan tujuan agar masyarakat Desa Wadas mendapatkan keadilan atas tindakan represif yang dilakukan oleh aparat kepolisian.