BEM UM dan Aliansi BEM Malang Raya Gelar Aksi Di depan Gedung DPRD Kota Malang

Malang, Selasa 12 April 2022 BEM Universitas Negeri Malang yang tergabung dalam aliansi BEM Malang Raya gelar aksi setelah beberapa kali melakukan Kajian dan menghasilkan 25 poin tuntutan kepada pemerintah. Aksi ini di hadiri oleh ribuan mahasiswa dari berbagai Kampus di Malang Raya.

BEM UM serta Mahasiswa UM sendiri pagi pukul 8.30 WIB berkumpul di Sekertariat Ormawa Guna melakukan pendataan mahasiswa yang ikut aksi oleh Korlap UM saudara Ahmad Furqon Akbar dan briefing kepada Mahasiswa UM guna mengetahui teknis aksi dan penanganan jika terjadi chaos atau hal yang tidak di inginkan. Briefing di pimpin oleh Presma dan Wapresma BEM UM 2022. “Kita tidak boleh terprovokasi apalagi sampai terjadi Chaos, juga jangan sampai dan dengan polisipun sebisa mungkin jangan memulai pertikaian, agar aksi ini dapat berjalan dengan lancar dan tercapainya tuntutan tuntutan kita” Ucap Naufal Taufiqur Rochman Selaku Presma BEM UM 2022 mengingatkan kepada semua mahasiswa.

Setelah briefing selesai Mahasiswa UM bergeser ke Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya guna berkumpul dengan mahasiswa lainnya. Pukul 10.40 WIB rombongan mahasiswa konvoi menuuju Stadion Gajayana, lalu berjalan bersama menuju Gedung DPRD Kota Malang.

Perwakilan mahasiswa dari berbagai kampus silih berganti naik ke atas mobil komando untuk menyuarakan dengan lantang keresahan yang dirasakan, serta menyampaikan aspirasi masyarakat yang tertuang dalam 25 poin tuntutan BEM Malang Raya kepada pemerintah.

Walaupun di tengah cuaca terik matahari dan dalam kondisi berpuasa ribuan mahasiswa tetap bersemangat menyuarakan tuntutannya. Beberaapa mahasiswa perempuan mengalami dehidrasi dan tidak sadarkan diri karena panas terik dan kondisi berpuasa. Akan tetapi rekan rekan langsung tanggap dan di bawa ke tim medis guna di tangani lebih lanjut.

Sekitar pukul 13.08 WIB Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Malang I Made Rian Diana Kartika bersama Wakil Ketua III DPRD Kota Malang Rimzah menemui massa aksi yang telah dua jam berorasi di depan Gedung DPRD Kota Malang. “Saya di samping sebagai Ketua DPRD Kota Malang saya juga Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Malang sepakat untuk menolak penundaan Pemilu. 14 Februari 2024 kita akan laksanakan Pileg Pilpres. 27 November kita akan sepakat melaksanakan Pilkada serentak,” Ucap Made dengan lantang. Walaupun sempat riuh dengan statement ketua DPC PDI Perjuangan Kota Malang akan tetapi mahasiswa bersorak karena jadwal pemilu tidak akan mengalami penundaan. Lalu Made pun meminta adanya ruang-ruang dialog antara pejabat legislatif dengan mahasiswa. Hal itu bertujuan untuk memperkuat pengawalan tuntutan dan isu yang sedang berkembang di masyarakat.

Sementara itu tuntutan lain seperti Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax, minyak goreng dan penuntasan permasalahan agraria di wilayah Malang Raya pun di dukung penuh oleh Ketua DPRD Dan akan di teruskan ke pemerintah pusat dan daerah. Hal ini di buktikan dengan penandatanganan petisi oleh Ketua DPRD Kota Malang.

Walaupun sempat ada provokasi dari seseorang tanpa almamater namun jalannya aksi ini berjalan dengan lancar tanpa ada chaos dan keributan lainnya. Aksi di tutup dengan konfrensi oleh kordinator BEM Malang Raya. “Jika tuntutan kami tidak ada kelanjutan sampai 1 minggu ke depan kami akan menggerakkan lebih banyak masa lagi untuk mengadakan aksi lanjutan” Pungkas Zulfikri selaku Koordinator BEM Malang Raya.

Pewarta : M. Dandy Alfianto & Tasya Dita